Akankah RRAB seramai Kompasiana

Aug 03, 2016

People, World

0

Sejak menghadiri even di Warwick University bulan Maret lalu saya selalu ingin mengunjungi website Rekam Riset Anak Bangsa. Namun karena berbagi kesibukan, saya baru sempat mengunjungi website ini kemarin. Salah satu alasan yang mendorong saya adalah hasil diskusi singkat dengan akademisi Indonesia (dari ITB, UGB, UI, ITS dan Ristek) yang berkunjung ke UK untuk mnajalani pelatihan untuk mendorong aktivitas STEM (Science, Technology, Engineering, Mathemetics) di tingkat akar rumput di Indonesia, sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility Rolls-Royce. Terus terang saya mengharapkan komunitas yang hidup, tidak semarak Kompasiana, namun cukup hidup. Namun website ini tampaknay sangat sepi — mungkin semua yang menghadiri event di Warwick sudah ditelan kesibukan keseharian masing-masing, seperti saya sendiri. Menariknya rekan-rekan akademisi yang berkunjung melalui program Rolls-Royce juga mendapat pesan yang sama ketika menjalani pelatihan di UK.

Membangun komunitas untuk tujuan apapun memang sangat sulit. Kenyataanya mungkin hanya 1/100 atau kurang anggota dari suatu komunitas akan aktif. Masalahnya kita semua memang mempunyai kesibukan keseharian. Di dalam masyarakat tempat saya tinggal, saya menjadi dewan pembina sekolah lokal (governing body) sejak 7 tahun yang lalu melalui proses pemilihan orang tua murid dengan kandidat tunggal. Singkatnya saya terpilih karena memang sedikit yang mau mengajukan diri.

Dalam kasus website ini, memang komunitas yang menjadi basis hanyalah beberpa puluh (paling banyak beberapa ratus) orang. Kompasiana memang ramai, namun kalau dilihat penduduk Indonesia yang 200 juta lebih, sebenarnya aktivitas di Kompasiana hanyalah melibatkan 1/100000000 komunitas yang menjadi targetnya, yaitu masyarakat Indonesia. Untuk website RRAB ini yang menjadi persoalan lebih jauh adalah komunitas peneliti Indonesia memang kecil. Pelajar program S1 dan S2 di UK, yang rasanya merupakan komponen terbesar di even yang diselenggarakan di Warwick, praktis hanya menjalani kegiatan riset intensif selama 3-6 bulan. Dalam masa singkat ini sulit untuk menjalankan riset dan membuat blog. Pelajar program S3 yang melakukan full time riset selama 3-6 tahun (jujur saja) mungkin bisa lebih berperan aktif. Namun tuntutan riset dan menulis blog juga tidak mudah. Peneliti prfesional yang terbiasa dan harus menulis paper ilmiah akan memiliki posisi yang lebih mudah untuk menulis blog ataupun menyertakan paper di forum ini. Namun ada dua kendala besar bagi keompok ini, pertama soal waktu karena kehiatan keseharian. Permasalahan kedua, bagi saya pribadi adalah misi dan visi RRAB yang ditujukan bagi pelajar, sehingga para profesional memang tidak seharusnya ikut campur disini.

Sebagai penutup, saya benar-benar berharap RRAB akan tumbuh dan menjadi lebih marak, tidak usah semarak Kompasiana namun mampu menyuguhkan pemikiran yang tidak harus selaras dengan main stream masyarakat. Kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan riset di Indonesia. Sebagai negara berpenduduk besar, Indonesia pasti akan menduduki peringkat 10 besar ekonomi dunia dalam dekade mendatang karena volume kegiatan ekonomi penduduknya. Namun tanpa riset, Indonesia hanya akan menjadi target pasar dan mungkin bengkel manufaktur seperti Cina di tahun 1990-an.  Maka RRAB mempunyai potensi besar untuk membangun masayarakat riset Indoensia… Haruskah RRAB melakukan re-launch agar tidak mati dengan sia-sia ?

Post by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *